KUNINGAN — Fenomena paparan teknologi rupanya tak lagi hanya milik anak-anak di perkotaan. Di Desa Puncak, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, sekitar 90 persen siswa kelas atas tingkat sekolah dasar tercatat sudah menggunakan gawai (gadget) pribadi, bahkan sebagian di antaranya mulai mengenali teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) seperti ChatGPT.
Merespon kenyataan tersebut, tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University menginisiasi program edukasi bertajuk Puncak Ceria. Program ini digelar di tiga sekolah sekaligus, yaitu SDN 1 Puncak, SDN 2 Puncak, dan SDN 3 Puncak, guna menanamkan literasi digital, keuangan, dan pengembangan karakter sejak dini.
- Akselerasi UMKM Kuningan Go Digital, Mahasiswa IPB Fasilitasi QRIS dan Google Maps
- Berburu Motor Murah Mulai Rp 1 Jutaan di Lelang Kejari Kuningan, Begini Jaminan Pengurusan STNK-nya
- Bersama Mahasiswa KKN Unisa, Politisi Gerindra Sri Laelasari Gencarkan Edukasi Cegah HIV dan Lindungi Pelajar Kuningan
- Siswa SD Desa Puncak Mulai Kenal AI, Mahasiswa IPB University Gelar Edukasi Digital hingga Keuangan
- Sisi Lain Viral Wisata Curug Bebedahan Kuningan: Berpotensi Besar, Namun Minim Anggaran
Respon Perkembangan AI dan Penggunaan Gawai
Dalam sesi literasi digital, mahasiswa IPB memberikan pemahaman mendalam mengenai pemanfaatan teknologi secara sehat dan aman. Anak-anak diajak untuk mengoptimalkan gawai serta platform AI sebagai sarana penunjang belajar, pencarian informasi positif, dan wadah kreativitas.
“Selain mengenalkan sisi positif teknologi, kami juga menekankan pentingnya pembatasan durasi penggunaan (screen time), menjaga keamanan data pribadi saat berselancar di internet, serta pentingnya pendampingan dari orang tua maupun guru,” ujar perwakilan tim KKNT IPB University.
Bangun Kemandirian Finansial Lewat ‘Celengan Impian’
Tak hanya urusan digital, program Puncak Ceria juga menyasar pemahaman finansial murid kelas 4 hingga 6 SD. Meski sebagian besar siswa telah memiliki kebiasaan menyisihkan uang, aktivitas tersebut umumnya masih sebatas program tabungan sekolah atau uang dari orang tua. Melalui pendekatan yang interaktif, para siswa diajak membuat Celengan Impian.
Setiap murid menentukan sendiri target barang atau tujuan yang ingin dicapai dari hasil tabungannya. Metode ini dirancang untuk melatih kesabaran, kedisiplinan, serta rasa tanggung jawab dalam mengelola keuangan sejak usia muda.
Menanamkan Harapan di ‘Pohon Cita-Cita’
Sementara itu, untuk murid kelas 1 hingga 3 SD, edukasi difokuskan pada pengenalan beragam profesi di masyarakat. Siswa tidak hanya dikenalkan pada profesi populer seperti guru, dokter, atau polisi, tetapi juga profesi penting lainnya seperti petani dan pengusaha.
Sebagai penutup sesi, setiap anak menuliskan impian mereka pada kertas berbentuk daun yang kemudian ditempelkan di Pohon Cita-Cita. Visualisasi ini menjadi pengingat simbolis bahwa setiap impian memerlukan proses belajar, kerja keras, dan ketekunan untuk dapat terwujud.
Inisiatif interaktif yang memadukan pendidikan karakter dan tantangan modern ini diharapkan dapat menjadi fondasi kuat bagi anak-anak di Desa Puncak dalam menyongsong masa depan. (Nars)

